PROFIL GURU PESANTREN( Antara Keterbatasan dan Profesionalisme)
PROFIL GURU PESANTREN
( Antara Keterbatasan dan Profesionalisme)[1]
Oleh : Ramadhonus
A. MUQADDIMAH
Guru secara bahasa berarti orang yang kerjanya mengajar[2]. Sehingga, dapat didefinisikan bahwa guru adalah pekerjaan profesional yang secara historis tidak saja mengajar di depan kelas tetapi merupakan pendidik yang mengandung makna pelayanan luhur dan terkandung di dalamnya noblestvocation ( jabatan mulia).[3] Bahkan keberadaan guru sebagai tenaga pendidik telah mendapat pengakuan secara legal dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab XI pasal 39 ayat 2 : ”Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama pendidik pada perguruan tinggi.” [4] Sebagai tugas profesional, apa yang dilakukan guru tidaklah sedikit, yang apabila dikelompok mempunyai 3 (tiga) jenis tugas utama, yaitu :Pertama, tugas guru dalam bidang profesi adalah mendidik, mengajar dan melatih. Guru sebagai pendidik bermakna meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup pada diri siswa. Guru sebagai pengajar, berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi demi masa depan siswa yang berujung pada masa depan bangsa dan kemajuan bangsa. Dan sebagai pelatih, berarti guru mengembangkan keterampilan dan potensi yang ada pada siswa.Kedua, tugas guru dalam bidang kemanusiaan berarti bahwa guru di sekolah bertindak sebagai orang tua kedua yang harus mampu menarik simpati para siswanya sehingga pelajaran apapun yang diberikannya dapat menjadikan motivasi bagi siswanya dalam belajar.Ketiga, kemasyarakatan, dan tugas guru dalam bidang ini menempatkan peranan guru dalam masyarakat sebagai komponen strategis yang dapat menentukan gerak maju kehidupan bangsa. Keberadaannyapun merupakan faktor condisio sine quanon yang tidak mungkin digantikan oleh komponen manapun dalam kehidupan suatu bangsa.[5] Pada dataran selanjutnya, keberadaan guru di pesantren haruslah dipahami sebagai bagian integral dari sebuah sistem pendidikan yang berasrama (Boarding School) dan tidak bisa terlepas dari akar sejarahnya sebagai indegenious cultura[6] dimana guru dan murid (santri) berada dalam satu lingkungan dan dapat saling berinteraksi hampir setiap saat. Bahkan guru yang mengajar di pesantren itupun berasal dari pesantren yang sama atau juga alumni pesantren tersebut. Kondisi ini yang memungkinkan dapat menimbulkan hal-hal yang bersifat positif maupun negatif dalam proses interaksi guru dan murid. Eksistensi pesantren lembaga pendidikan keagamaan dari waktu-waktu terus mengalami bentuk dan sistem yang dianutnya. Akan tetapi secara garis besar terdapat 3 (tiga) bentuk pesantren, yaitu : Pertama, Pondok Pesantren Tradisional, dengan pola pengajarannya menerapkan sistem halaqoh yang dilaksanakan dimasjid atau surau. Inti dari sistem pengajaran pesantren ini adalah hafalan sehingga terciptanya santri yang menerima dan memiliki ilmu. Kurikulumnya pun tergantung para kyai dan pengasuh pesantren. Sedangkan para santrinya ada yang bermukim dan ada pula yang tidak menetap (santri kalong). Kedua, Pondok Pesantren Modern. Pesantren dengan tipe ini proses pembelajarannya mengadopsi sistem klasikal dengan menerapkan kurikulum yang baku baik secara nasional maupun kurikulum yang menjadi ciri khas pesantren itu sendiri. Ketiga, Pondok Pesantren Komprehensif. Pesantren dengan model ini memadukan antara sistem pendidikan tradisional dengan sistem pendidikan modern. Dalam artian pengajaran kitab-kitab klasik dengan metode sorogan, bandongan, dan wetonan tetap dilaksanakan namun secara reguler sistem modern juga diterapkan dan dikembangkan.[7] Untuk itulah menjadi guru di pesantren haruslah tertanam benar-benar nilai-nilai Panca Jiwa Pesantren sehingga guru di pesantren mampu menjalankan amanah yang diberikan pimpinan pesantren. Dan sejalan dengan kondisi kekinian maka guru di pesantren sudah selayaknya mengembangkan 4 (empat) pilar pendidikan yang dicanangkan oleh UNESCO :1. Learning to think (Belajar bagaimana berpikir).2. Learning to do ( Belajar Hidup atau Belajar bagaimana berbuat).3. Learning to be ( Belajar bagaimana tetap hidup atau sebagai dirinya).4. Learning to live together ( Belajar untuk hidup bersama-sama). B. BERAWAL DARI RASULULLAH SAW
Muhammad SAW diturunkan Allah sebagai Rasul terakhir pada dasarnya adalah seorang guru juga, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Jumu’ah : 2 ;
هـو الذى بعث في الامـين رســولا منهــم يتلـوا عليهم أيتـه ويزكيـهم ويعلمهـمالكتب والحـكمة وإن كانـوامن قبل لفى ضـلال مبـين
“ Dia lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”
Begitu pula dalam surat Al Baqarah : 151 dan164. Dan Rasulullah dalam menyampaikan dakwahnya dalam majlis-majlis pengajian selalu mendorong para sahabat-sahabatnya dengan cara menjelaskan tentang keutamaan ilmu dan mencari ilmu; dan membuat sahabatnya merasa membutuhkan ilmu. Dan diantara garis-garis besar pengajaran Rasulullah adalah[8] :
- Membiasakan untuk mengetahui alasan dan pijakan hukum.
- Membiasakan Metode dan Etika Bertanya.
- Memberi Jawaban tidak terbatas pada pertanyaan, melainkan menjawab dengan kiadah umum.
- Mendidik sahabat tentang Metode Belajar.
- Mendidik tentang Metode Bersika[p Kepada Dalil.
- Membiasakan Ber-Istimbath.
- Membiasakan Berdialog danb Muraja’ah (Evaluasi).
- Mendidik sahabat untuk memikul kewajiban Tabligh (Menyampaikan Ilmu).
- Mendorong dan memberi pujian.
- Memberi perhatian terhadap murid.
- Mengetahui Potensi dan Kemampuan Nalar.
- Memperhatikan perbedaan Pribadi.
- Mengarahkan kepada Spesialisasi yang sesuai.
- Menggabungkan antara Penajaran Pribadi dan Kolektif.
- Menghubungkan pengajaran dengan fenomena riil.
- Menggunakan sarana penunjang.
- Melakukan Penekanan pada materi-materi tertentu.
- Menghindari Pemecah Konsentrasi.
- Memperhatikan semangat dan kapasitas murid.
- Menggunakan berbagai macam metode agar menarik perhatian murid.
- Mengulangi ilmu dan hafalan.
C. KOMPETENSI GURUGuru sebagai tenaga pendidik haruslah mempunyai kompetensi profesional kependidikan baik yang bersifat kognitif, afektif dan performance. Kompetensi profesional tersebut mengarah kepada perbuatan yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan.[9] B.J. Chadler mengemukakan bahwa ciri mengajar sebagai suatu profesi adalah :Ø Lebih mementingkan layanan daripada kepentingan pribadi.Ø Mempunyai status yang tinggi.Ø Memiliki pengetahuan yang luas.Ø Memiliki kegiatan intelektual.Ø Memiliki hak untuk memperoleh standar kualifikasi profesional.Ø Mempunyai etik profesi yang ditentukan oleh organisasi profesi.[10] Dan guru sebagai pekerja profesioanl, setidaknya harus mempunyai 4 (empat) kompetensi sebagai berikut :a. Menguasai substansi, yaitu materi yang berkaitan dengan mata pelajaran yang dibinanya, sesuai dengan kurikulum yang diterapkan. Penguasaan substansi ini adalah bekal guru dalam mengajar dan mendidik dengan tepat, mantap dan penuh percaya ciri. Inilah salah satu kunci keberhasilan guru tersebut dalam menjalankan tugas profesionalnya.b. Menguasai metodologi mengajar. Penguasaan akan hal ini merupakan hal mutlak diperlukan guru untuk mentransfer pengetahuan, kecakapan, dan nilai-nilai yang berkaitan dengan mata pelajaran yang dibinanya secara efektif dan efisien. Hal ini dapat dimaklumi, karena banyak orang yang memiliki pengetahuan mendalam tentang sesuatu, namun sukar mentransfer pemahamannya kepada orang lain.c. Menguasai tehnik evaluasi dengan baik. Dengan penguasaan tehnik evaluasi, guru dapat melakukan penilaian dengan benar terhadap proses dan hasil belajar. Penilaian yang benar akan menghasilkan informasi dan data terhadap pencapaian hasil belajar dalam proses pembelajaran siswa.d. Memahami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai moral dan kode etik. Guru yang menjadikan moral dan kode etik profesi dalam menjalankan tugasnya akan dihargai eksistensinya oleh masyarakat dan lingkungannya. Guru pun akan lebih mudah melaksanakan proses belajar mengajar karena adanya perhatian siswa terhadap materi yang diberikan dikelas.[11] Dalam buku ”Standar Kompetensi Pendidikan Agama Islam” dijelaskan bahwa Guru haruslah mempunyai 2 (dua) Kompetensi, yaitu :a. Kompetensi Utama.1. Kemampuan Akademik, yakni guru harus mendalami hal-hal sebagai berikut :a) Memahami dengan baik dasar-dasar sosiologi dan psikologi pendidikan Islam dan umum.b) Memahami karakter dan perkembangan psikologis, sosiologis dan akademik setiap siswa.c) Memahami cara mengembangkan cara kecerdasan intelektual, emosional dan spritual anak didik.d) Memahami kurikulum yang berlaku secara utuh, terutama yang menyangkut dengan maata pelajatan yang menjadi bidang tugasnya.e) Memahami relevansi bidang studi yang diajarkan dengan ajaran-ajaran keislaman atau sebaliknya.f) Memahami metode pembelajaran yang paling tepat dan mutakhir.g) Memahami perencanaan, proses, dan evaluasi belajar yang tepat.h) Memahami cara memanfaatkan jam belajar yang terbatas secara efektif.i) Memahami cara penggunaan alat bantu (teknologi) dan sumber belajar secara tepat.j) Memahami tujuan pendidikan dan pengajaran di Madrasah (Sesuai dengan tingkatannya).k) Memahami tujuan pendidikan nasional.2. Kemampuan menciptakan suasana belajar yang kondusif, yakni meliputi :a) Menciptakan lingkungan Madrasah yang saling menghormati dan memahami.b) Menanamkan agar siswa memberi penghargaan yang tinggi terhadap ilmu dan belajar.c) Menanamkan kepada siswa agar merasa bangga dan percaya diri menjadi siswa madarasah.d) Membiasa perilaku dan sikap yang sopan kepada yang lain.e) Menumbuhkan sikap positif seperti tekun, menghargai dan menerima diri dan tegas terhadap kenyataan yang dialami dan berfikir positif.f) Membiasakan anak didik menjaga kebersihan dan merawat kepentingan umum.g) Mengembangkan perilaku tepat waktu dan memenuhi janji.h) Membangun hubungan emosianal yang erat antara siwa dan madarasah.i) Berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang baik, jelas dan tepat.j) Menggunakan berbagai pendekatan dalam pengajarank) Melibatkan siswa secar maksimal dalam proses pembelajaran,l) Memberi perhatian kepada setiap siswa dengan baik, serta mengevaluasi proses dan perkembangan belajar mereka.m) Menunjukkan sikap mudah dihubungi, tidak kaku dan bertanggungjawab.b. Kompetensi Pendukung.1. Kemampuan Membangun Hubungan / Komunikasi, yang meliputi :a) Mengutamakan kerja kolaboratif dan kolektif sesama guru dan warga madrasah lainnya.b) Membangun lingkungan kerja yang bersahabat.c) Membantu jalannya program dan kebijakan madrasah serta berpartisipasi di dalamnya.d) Menjaga komunikasi dengan orang tua siswa dan masyarakat.e) Berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat sekitar madrasah.f) Menjaga kepercayaan warga madrasah.g) Mengikuti peraturan dan prosedur yang berlaku dalam madrasah.h) Menerima dan melaksanakan tanggungjwab yang diberikan.i) Menjamin bahwa setiap siswa mendapat perlakuan dan kesempatan yang sama dalam belajar.j) Menempatkan kesuksesan setiap siswa sebagai tujuan dari setiap langkah yang diambil.2. Kemampuan Leadership, yaitu aspek kepemimpinan yang harus dimiliki, meliputi :a) Memiliki dedikasi yang tinggi untuk meningkatkan prestasi siswa.b) Mendorong anak didik untuk tidak tergantung pada orang lain dalam belajar.c) Menunjukkan kemampuan dalam beradaptasi dan fleksibel.d) Fokus pada pembelajaran dan pengajaran.e) Menunjukkan sikap adil, tidak memihak atau mengistimewakan seorang anak lebih dari pada anak yang lain.f) Memberi dukungan dan bantuan kepada sesama guru atau tenaga kependidikan lain yang menghadapi masalah.g) Menunjukkan perilaku yang sopan dan bertanggungjawab.h) Mengakui, menghargai dan memberi dukungan terhadap perbedaan pandangan.i) Berpartisiapasi dalam kegiatan pengembangan keahlian dan mendorong guru-guru lain untuk juga mengikutinya.j) Mengelola sumber-sumber yang ada secara efektif dan benar.k) Mendorong dan sebisa mungkin serta memfasilitasi guru lain untuk mengembangkan diri3. Kemampuan dalam mengembangkan diri. Guru yang baik adalah guru yang mampu mengembangkan dirinya dan kemampuan profesionalnya terus menerus, yang dalam hal ini meliputi :a) Mengambil inisiatif dalam mengembangkan kemampuan diri tanpa perlu menunggu instruksi atasan.b) Menyediakan waktu untuk membaca dan mempelajari metode mengajar terkini.c) Melakukan refleksi dan riset sederhana terhadap pengajaran sendiri secara berkala.d) Mengikuti pelatihan-pelatihan atau pertemuan-pertemuan nonformal tentang pendidikan.e) Melakukan dialog-dioalog informal untuk berbagai pengalaman dengan sesama guru.f) Memberi bantuan baik secara langsung maupun tertulis kepada guru-guru lain.g) Mendorong sesama guru dan tenaga kependidikan lainnya untuk melakukan kerja kolektif dalam memberi masukan bagi perbaikan praktek pengajaran.[12] Dari parameter-parameter diatas maka kualitas guru yang dapat mempengaruhi keberhasilan prestasi belajar siswa dapat tercapai. Kualitas gurupun akan dapat mempengaruhi kualitas mengajar yang baik. Dan untuk mengetahui guru yang mempunyai kualitas mengajar yang tinggi dan kualitas mengajar yang rendah, Richey menjelaskan 5 (lima) variabel yang berisikan 20 indikator.[13] Kelima variabel tersebut adalah :1. Bekerja dengan siswa secara individual.2. Persiapan dan Perencanaan mengajar3. Pendayagunaan alat pelajaran4. Melibatkan siswa dalam berbagai pengalaman belajar5. Kepemimpinan aktif dari guru. D. PENUTUP Menjadi guru yang baik dan professional sudah seyogyanya mampu menciptakan lingkungan belajar yang baik, karena guru yang baik tidaklah mencari taman bunga tetapi menciptakan taman bunga. Madinatunnajah, 17 Pebruari 2008
Lampiran :
Kualitas Mengajar Guru
| Variabel | Indikator Kualitas Mengajar yang Tinggi | Indikator Kualitas Mengajar yang Rendah |
| 1. Bekerja dengan siswa secara individuala. Tugas-Tugas b. Hubungan guru – siswac. Percakapan antara guru-siswa d. Pekerjaan siswa 2. Persiapan dan Perencanaan Mengajara. Tiap hari secara kontiniu. b. Pengetahuan Guru c. Rencana pelajaran d. Pengaturan selanjutnya3. Penggunaan alat bantu mengajara. Penggunaan buku pelajaran. b. Penggunaan AVA c. Penggunaan bahan-bahan perpustakaan d. Penggunaan perjalanan sekolah sebagai alat bantu belajar4. Mengukutsertakan siswa dalam berbagai pengalaman belajara. Jenis pengalaman belajar b. Merencanakan bersama antara guru dan murid c. Tanggungjawab siswa d. Cara memberi motivasi 5. Kepemimpinan aktif siswaa. Mengikutsertakan siswa sebagai pimpinan b. Mendayagunakan permainan dan pengalaman lalu berbagai variasi yang bersifat hiburanc. Memecahkan masalah siswa d. Diskusi | a. Memberi tugas secara individub. Sangat pribadi dan penuh keakrabanc. Sering diadakan untuk menolong siswa d. Diperiksa dengan teliti dan dikembalikan segera sambil membahas bersama a. Pekerjaan dibuat b. Guru menjadi sumber informasi dan siswa menggunakan buku sebagai suplemen c. Pelajaran disajikan di papan tulis atau alat lain yang lengkapd. Materi yang penting selalu disajikan a. Siswa tahu bagaimana cara menggunakan buku pelajaranb. Penggunaan alat bantu yang berhubungan dengan tugas pelajaranc. Siswa menggunakan perpustakaan secara efektif seperti katalog buku petunjuk referensid. Memperkenalkan kelas dengan berbagai sarana belajar a. Berbagai bentuk pengalaman belajar b. Menganggap siswa mampu lalu menolong mereka dalam membuat rencana c. Mendidik siswa untuk mempersiapkan tugas dan membantu kelas secara keseluruhan d. Menumbuhkan minat dan menimbulkan rasa penting bagi siswa a. Memberikan pengalaman memimpin pada siswa dibawah binaan gurub. Untuk memperlengkapi dan menciptakan keseimbangan kegiatan dibawah binaan guruc. Ikut memperhatikan problem siswa dan memecahkan masalah merekad. Memberi kesempatan untuk berpartisipasi | a. Memberi tugas yang seragamb. Sangat formal atau terlalu sembronoc. Sering diadakan dengan maksud mendisiplinkan siswad. Dilakukan tanpa tanggungjawab.Tidak memperhatikan kesalahan dan memperbaiki. a. Pekerjaan yang tidak berhubungan satu dengan yang lain.b. Tidak mampu menjawab pertanyaan yang sederhana. c. Perencanaan yang tidak jelas d. Kurangnya bahan yang dipersiapkan a. Siswa ridak mengenal hal-hal yang penting dari bukub. Kurang menggunakan alat bantu pelajaran c. Hanya bersifat ceramah dan kurang menggunakan alat peraga d. Digunakan untuk piknik pada hari libur a. Hanya satu/dua bentuk pengalaman belajarb. Kurang menghargai partisipasi siswa atau reaksi siswa kurang diperhatikan c. Hanya mempersiapkan tugasnya sendiri d.Hanya memperbaiki dan mengkritik a. aktifkan siswa agar guru boleh istirahat b. Agar guru boleh beristirahat c. Hanya bersifat menusuk hati dan penuh kekuasaan d. Hanya didominasi oleh beberapa orang |
[1] Makalah disampaikan pada 17 Pebruari 2008 dalam Pembekalan Amaliyah Tadris Santri Kelas VI Pondok Pesantren Madinatunnajah, Jombang Ciputat Tangerang Banten.
[6] Istilah ini biasanya dipakai pada sesuatu yang asli dan menjadi ciri khas sebuah budaya. Pesantren misalnya, adalah lembaga pendidikan keagamaan merupakan budaya asli bangsa Indonesia dan hanya terdapat di Indonesia serta menjadi ciri khas Indonesia.
[8] Muhammad Abdullah Ad-Duweisy, Al Mudarris wa Mahǎrǎt At Taujǐh, Penerjemah Izzudin Karimi, (Surabaya, Elba,2007) hal.24 – 59
[9] Sahertian, Supervisi Pendidikan, hal. 4
[13] Sahertian, Supervisi Pendidikan, hal. 10-13
Indonesiaku, untuk kita renungkan ?
Sudah saatnya kita seluruh bangsa Indonesia, yang terdiri dari berbagai etnis, budaya, agama melakukan rekonstruksi terhadap hubungan sosial yang telah sama kita bangun semenjak era reformasi. Apakah yang sebenarnya terjadi ? apakah semua bencana dan musibah yang datang silih berganti, karena faktor alam? ataukah kita sebagai manusia tidak mampu mengemban amanah ilahi sebagai khalifah di muka bumi ini ? Padahal DIA telah memberi kita seluruh wewenang-Nya untuk mengolah bumi ini. Namun sayangnya, kita lebih mengedepankan “keinginan” daripada “kewajiban”. Dan keinginan itulah yang dapat merusak kewajiban.
Sebagai bangsa yang besar, sudah saatnya, jangan ditunda-tunda, melakukan rekonstruksi ulang reformasi yang telah berjalan hampir sepuluh tahun. Dan itu harus dilakukan dalam semua bidang kehidupan, baik dari aspek sosial, ekonomi, pendidikan, agama dan lain sebagainya. (kelanjutannya besok ya…)
Halo dunia!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
-
Terkini
- Terapi Musik dalam Peradaban Islam
- A POEM FOR GAZA
- Kimia Kebahagiaan I
- Hubungan Doa, ikhtiar, dan Takdir
- Cara Islami Berkepribadian Menyenangkan
- CINTA SEJATI
- Kearifan cinta
- Ahmadiyah, Ada apa……..?
- PROFIL GURU PESANTREN( Antara Keterbatasan dan Profesionalisme)
- Indonesiaku, untuk kita renungkan ?
- Halo dunia!
-
Tautan
-
Arsip
- Maret 2009 (1)
- Januari 2009 (1)
- Desember 2008 (1)
- Mei 2008 (2)
- April 2008 (3)
- Maret 2008 (3)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS