Rdhonuz’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Kimia Kebahagiaan I

Kenali diri,

Pintu Mengenal ALLAH

 

Tidakada yang lebih dekat dengan diri kita, kecuali kita sendiri. Jika seseorang tidak mengetahui dirinya sendiri, bagaimana dia mampu mengetahui segala sesuatu yang lain. Dalam hubungannya dengan sifat religiousitas seseorang yang ingin selalu dekat Sang Maha Pencipta, maka keinginan itu haruslah diawali dengan pengetahuan tentang Tuhan. Dan pengetahuan tentang diri adalah kuncinya. Sesuai dengan hadist, “Dia yang mengetahui dirinya sendiri, akan mengetahui Tuhan”.

            Pengetahuan tentang diri kita sebenarnya berawal dari serangkaian pertanyaan. Siapakah kita, dan dari mana kita dating? Kemana kita pergi, apa tujuan kita dating lalu tinggal sejenak disini, serta kemanakah kebahagiaan kita dan kesedihan kita yang sebenarnya berada ?. Maka sebelum kita mengetahui tentang kita, sebaiknya kita fahami bahwa dalam diri manusia ada sifat-sifat binatang, sebagian sifat-sifat setan dan selebihnya sifat-sifat malaikat, yang harus dipilah menjadi sifat-sifat yang aksidental dan sifat-sifat esensial. Jika kita ingin mempunyai sifat-sifat malaikat kitapun harus berjuang mencapai itu agar mampu kita kenali dan renungi Dia Yang Maha Tinggi. Kita pun harus menemukan sebab manusia diciptakan dengan dua insting hewani sehingga kita mampu menundukkannya.

 Untuk menuju pengetahuan tentang diri, kita harus menyadari bahwa manusia terdiri dari bentuk luar yang disebut jasad, dan wujud dalam yang disebut hati atau ruh. Hati bukanlah sepotong daging yangterletak di bagian kiri badan, tetapi ia mempunyai unsure-unsure lain sebagai alat dan pelayanannya. Ia pada hakikatnya tidak termasuk dalam dunia kasat mata, melainkan dunia maya. Hakikat hatipun dapat diperoleh seseorang yang mengatupkan matanya dan melupakan segala sesuatu di sekitarnya selain individualitsnya. Dengan itu, ia sekilas akan melihat sifat individualitasnya yang tak berujung. Dan yang bisa ketahui dari ruh adalah ia merupakan suatu esensi tak terpisahkan yang termasuk dalam dunia titah, dan ia tidak berasal dari sesuatu yang abadi melainkan diciptakan. Pengetahuan tentang diri muncuk akibat displin diri dan kesabaran diatas lintasan agama, sebagaimana dalam Al Ankabut : 69, “ Siapa yang berjuang di jalan Kami, pasti akan kami tunjukkan padanya jalan yang lurus”.

  Demi mendapatkan pengetahuan tentang diri dan tentang Tuhan, jasad bisa digambarkan sebagai suatu kerajaan, jiwa (ruh) sebagai rajanya serta berbagai indera dan unsur-unsur  lain sebagai tentaranya. Nalar   sebagai wazir atau perdana menteri, nafsu sebagai pemungut pajak dan amarah sebagai petugas polisi. Dengan berpura-pura mengumpulkan pajak, nafsu terus-menerus merampas demi kepentingannya sendiri, sementara amarah selalu cenderung kepada kekasaran dan kekerasan. Pemungut pajak dan petugas polisi keduanya harus selalu ditempatkan di bawah raja, tetapi tidak dibunuh atau diungguli, mengingat mereka memiliki fungsi-fungsi tersendiri. Tapi jika nafsu dan amarah menguasai nalar, maka – tak bisa tidak – keruntuhan jiwa pasti terjadi. Jiwa yang membiarkan unsur-unsur yang lebih rendah untuk menguasai yang lebih tinggi ibarat seseorang yang menyerahkan seorang bidadari kepada kekuasaan seekor anjing, atau seorang muslim kepada tirani seorang kafir.

            Selanjutnya, jiwa rasional di dalam manusia penuh dengan keajaiban pengetahuan maupun kekuatan. Pancaindera kita bagaikan lima pintu yang terbuka menghadap ke dunia luar. Tetapi ajaib dari semuanya ini, hatinya memiliki jendela yang terbuka ke arah dunia ruh yang tak kasat-mata. Dalam keadaan tertidur, ketika inderanya tertutup, jendela ini terbuka dan  menerima kesan-kesan dari dunia tak-kasat-mata; kadang-kadang bisa ia dapatkan isyarat tentang masa depan. Hatinya bagaikan sebuah cermin yang memantulkan segala sesuatu yang tergambar di dalam Lauhul-mahfuzh. Bahkan dalam keadaan tidur, pikiran-pikiran akan segala sesuatu yang bersifat keduniaan akan memburamkan cermin ini, sehingga kesan-kesan yang diterimanya tidak jelas. Meskipun demikian setelah mati pikiran-pikiran seperti itu sirna dan segala sesuatu tampak dalam hakikat-telanjangnya. Dan kata-kata di dalam al-Qur’an pun menyatakan: “Telah Kami angkat tirai darimu dan hari ini penglihatanmu amat tajam.”

Membuka sebuah jendela di dalam hati yang mengarah kepada yang tak-kasat-mata ini juga terjadi di dalam keadaan-keadaan yang mendekati ilham kenabian, yakni ketika intuisi timbul di dalam pikiran -tak terbawa lewat saluran-indera apa pun. Makin seseorang memurnikan dirinya dari syahwat-syahwat badani dan memusatkan pikirannya pada Tuhan, akan makin pekalah ia terhadap intuisi-intuisi seperti itu. Intuisi-intuisi seperti itu tidak  terbatas hanya pada tingkatan kenabian saja. Sebagaimana  besi, dengan memolesnya secukupnya, ia  bisa  menjadi sebuah cermin. Dengan disiplin yang memadai, pikiran siapa pun mampu menerima kesan-kesan seperti itu. Kebenaran inilah yang diisyaratkan oleh Nabi ketika beliau berkata: “Setiap anak lahir dengan suatu fitrah (untuk menjadi muslim); orang tuanyalah yang kemudian membuatnya menjadi seorang Yahudi, Nasrani atau Majusi.” Setiap manusia, di kedalaman kesadarannya, mendengar pertanyaan “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” dan menjawab “Ya”. Tetapi ada hati yang menyerupai cermin yang telah sedemikian dikotori oleh karat dan kotoran sehingga tidak lagi memberikan pantulan-pantulan yang jernih. Sementara hati para nabi dan wali, meskipun mereka juga mempunyai nafsu seperti kita, sangat peka terhadap segenap kesan-kesan ilahiah.

            Akan tetapi bukan dengan nalar pengetahuan capaian dan intuisi saja jiwa manusia bisa menempati tingkatan paling utama di antara makhluk lainnya, tetapi juga dengan nalar kekuatan. Dan pencapaian kebenaran ruhaniah dapat pula terhambat oleh pengetahuan yang didapat secara eksternal. Misalnya,  hati kita gambarkan sebagai sumur dan pancaindera sebagai lima aliran yang terus menerus membawa air ke dalamnya. Agar dapat mengetahui kandungan hati, makan aliran itu harus dihentikan sesaat. Kebahagiaan memang terkait dengan pengetahuan tentang Tuhan. Seseorang yang kehilangan  keinginan tentang Tuhan bagaikan kehilangan selera terhadap makanan sehat. Pengetahuan kita tentang Tuhan timbul dari kajian dan renungan atas jasad kita sendiri yang menampakkan kebijaksanaan, kekuasaan serta cinta Sang Pencipta. Dengan Kuasa-Nya, terbangun kerangka tubuh manusia yang luar biasa hanya dari satu tetesan belaka. Kebijakan-Nya terungkap dalam kerumitan jasad kita yang unsur-unsurnya saling menyesuaikan. Struktur jasad mesti kita pelajari bukan untuk menjadi dokter, tetapi mencapai pengetahuan yang dalam tentang Tuhan.

            Kebesaran jiwa manusia yang sebenarnya terletak pada kapasitasnya untuk terus menerus meraih kemajuan. Jika tidak, dalam ruang temporal ini, ia akan menjadi makhluk paling lemah diatas segalanya-takluk oleh kelaparan, kehausan, panas, dingin dan penderitaan. Sesuatu yang palinmg ia senangi sering menjadi sesuatu yang paling berbahaya baginya. Sesuatu yang menguntungkan hanya bisa ia peroleh dengan kesusahan dan kesulitan.

            Maka manusia di dunia ini sungguh lemah dan hina. Hanya di dalam kehidupan yang akan datang ia akan mempunyai nilai. Perlu bagi kita untuk menimbulkan kesadaran sebagai makhluk terbaik, dan belajar mengetahui ketidakbedayaan kita. Amin

 

Dirangkum oleh Ramadhonus dari Pengetahuan  Tentang Diri, dalam  Imam Ghazali, The Alchemy of Happiness, Asharaf Publication, Lahore, 1979

 

 

 

Desember 31, 2008 Posted by | Agama | Tinggalkan sebuah Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.