Rdhonuz’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Terapi Musik dalam Peradaban Islam

Seni musik yang berkembang begitu pesat di era keemasan Islam, tak hanya sekedar mengandung unsur hiburan. Para musisi Islam legendaris seperti Abu Yusuf Yaqub ibnu Is?aq al-Kindi (801873  M) dan  al-Farabi (872950 M) telah menjadikan musik sebagai alat pengobatan atau terapi.
Lalu sebenarnya apa yang disebut dengan terapi musik?  Terapi musik merupakan sebuah proses interpersonal yang dilakukan seorang terapis dengan menggunakan musik untuk membantu memulihkan kesehatan pasiennya.  Sejak kapan peradaban Islam mengembangkan terapi musik?  Dan benarkah musik bisa menjadi alat terapi untuk menyembuhkan penyakit?
R Saoud dalam tulisannya bertajuk The Arab Contribution to the Music of the Western World menyebut  al-Kindi sebagai psikolog Muslim pertama yang mempraktikkan terapi musik. Menurut Saoud, pada abad ke-9 M, al-Kindi sudah menemukan adanya nilai-nilai pengobatan pada musik.
”Dengan terapi musik, al-Kindi mencoba untuk menyembuhkan seorang anak yang mengalami  quadriplegic atau lumpuh total,” papar Saoud. Terapi musik juga dikembangkan ilmuwan Muslim lainnya yakni al-Farabi (872-950 M). Alpharabius  begitu peradaban Barat biasa menyebutnya  menjelaskan tentang terapi musik dalam risalah yang berjudul  Meanings of Intellect .
            Amber Haque (2004) dalam tulisannya bertajuk  Psychology from Islamic Perspective: Contributions of Early Muslim Scholars and Challenges to Contemporary Muslim Psychologists”, Journal of Religion and Health mengungkapkan, dalam manuskripnya itu, al-Farabi  telah membahas efek-efek musik terhadap jiwa.
Terapi musik berkembang  semakin pesat  di dunia Islam  pada era Kekhalifahan Turki Usmani berkuasa.  Prof Nil Sari, sejarawan kedokteran Islam dari  Fakultas Kedokteran  University Cerrahpasa Istanbul mengungkap perkembangan terapi musik di masa kejayaan Turki Usmani.
Menurut Prof Nil Sari, gagasan dan pemikiran yang dicetuskan ilmuwan Muslim seperti al-Razi, al-Farabi dan Ibnu Sina tentang musik sebagai alat terapi dikembangkan para ilmuwan di zaman kejayaan Turki Usmani. ”Mereka antara lain; Gevrekzade (wafat 1801), Suuri (wafat 1693), Ali Ufki (1610-1675), Kantemiroglu (1673-1723) serta Hasim Bey (abad ke-19 M).
”Para ilmuwan Muslim di era kejayaan Ottoman itu telah melakukan studi mengenai musik sebagai alat untuk pengobatan,” papar Prof Nil Sari.  Menurut dia, para ilmuwan dari Turki Usmani itu sangat tertarik untuk mengembangkan efek musik pada pikiran dan badan manusia.
Tak heran, jika  Abbas Vesim (wafat 1759/60) dan Gevrekzade  telah mengusulkan agar musik dimasukan dalam pendidikan kedokteran. Keduanya berpendapat, seorang dokter yang baik harus melalui latihan musik.  Usulan Vesim dan Gevrekzade itu diterapkan di universitas-universitas hingga akhir abad pertengahan. Sekolah kedokteran pada saat itu mengajarkan musik serta aritmatika, geometri serta astronomi kepada para mahasiswanya.

Teori Terapi Musik

            Menurut Prof Nil Sari, masyarakat Turki pra-Islam meyakini bahwa kosmos diciptakan oleh Sang Pencipta dengan kata  ‘‘ku” / ”kok” (suara). Mereka meyakini bahwa awal terbentuknya kosmos berasal dari suara. Menurut kepercayaan Islam, seperti yang tertulis dalam Alquran, Allah SWT adalah Pencipta langit dan bumi.
‘…Dan bila Dia berkehendak  (untuk menciptakan) sesuatu, maka  (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: ‘Jadilah’. Lalu jadilah ia.”  (QS: al-baqarah:117). Setelah Islam bersemi di Turki, masyarakat negeri itu, masih tetap meyakini kekuatan suara. Inilah yang membuat peradaban Islam di era Turki Usmani menyakini bahwa musik dapat menjadi sebuah alat terapi yang dapat menyeimbangkan antara badan, pikiran dan emosi  sehingga terbentuk sebuah harmoni pada diri seseorang.
Prof Nil Sari mengungkapkan, para ahli terapi musik di zaman Ottoman menyakini bahwa pasien yang menderita penyakit tertentu atau emosi seseorang dengan temperamen tertentu  dipengaruhi oleh ragam musik tertentu. ”Para ahli musik di era Turki Usmani menyatakan,  makam (tipe melodi) tertentu memiliki kegunaan pengibatan tertentu juga,” papar Prof Nil Sari.
Ada sekitar 80 ragam tipe melodi yang berkembang di masyarakat Turki Usmani. Sebanyak 12 diantaranya bisa digunakan sebagai alat terapi.  Menurut Prof Nil Sari,  dari teks-teks tua dapat disimpulkan bawa jenis musik tertentu dapat mengobati penyakit tetentu atau perasaan tertentu.
Pada era kejayaan Kesultanan Turki Usmani, terapi musik biasanya digunakan untuk beberapa tujuan, seperti; pengobatan kesehatan mental; perawatan penyakit organik, perbaikan harmoni seseorang  yakni menyeimbangkan kesehatan antara badan, pikiran dan emosi. Musik juga diyakini mampu menyebabkan seseorang tertidur, sedih, bahagia dan bisa pula memacu intelijensia.
            Prof Nil Sari mengungkapkan, para ilmuwan di era Turki Usmani meyakini bahwa musik memiliki kekuatan dalam  proses alam,. Musik dapat berfungsi meningkatkan  mood dan emosi secara keseluruhan. Uniknya, para ilmuwan di era Ottoman sudah mampu menetapkan jenis musik tertentu untuk penyekit tertentu. Misalnya, jenis musik  huseyni dapat mengobati demam. Sedangkan, jenis musik   zengule dan  irak untuk mengobati meningitis.
Masyarakat Barat baru mengenal terapi musik pada abad ke-17 M. Adalah Robert Burton lewat karya klasiknya berjudul  The Anatomy of Melancholy yang mengembangkan terapi musik di Barat. Menurut Burton, musik dan menari dapat menyembuhkan sakit jiwa, khususnya melankolia.
Malah, masyarakat Amerika Serikat (AS) baru mengenal terapi musik sekitar 1944. Pada saat itu, Michigan State University membuka program sarjana teapi musik. Sejak 1998, di Amerika telah berdiri The American Music Therapy Association (AMTA). Organisasi ini merupakan gabungan dari  National Association for Music Therapy (NAMT,  berdiri tahun 1950)  dan the American Association for Music Therapy (AAMT, berdiri 1971).

Terapi musik merupakan salah satu kontribusi peradaban Islam dalam dunia kesehatan dan kedokteran. Di era modern ini, musik tetap menjadi salah satu alat untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Terapi musik menjadi salah satu bukti pencapaian para ilmuwan Muslim di era keemasan.  N heri ruslan

Musisi Muslim Pencetus Terapi Musik
Al-Kindi
Al-Kindi atau al-Kindus adalah ilmuwan jenius yang hidup di era kejayaan Islam Baghdad. Saat itu, panji-panji kejayaan Islam dikerek oleh Dinasti Abbasiyah. Tak kurang dari lima periode khalifah dilaluinya, yakni al-Amin (809-813), al-Ma’mun (813-833), al-Mu’tasim, al-Wasiq (842-847), dan Mutawakil (847-861).Kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berbagai ilmu, termasuk kedokteran, membuatnya diangkat menjadi guru dan tabib kerajaan. Khalifah juga mempercayainya untuk berkiprah di Baitulhikmah yang kala itu gencar menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dari berbagai bahasa, seperti Yunani.
Ketika Khalifah al-Ma’mun tutup usia dan digantikan putranya, al-Mu’tasim, posisi al-Kindi semakin diperhitungkan dan mendapatkan peran yang besar. Dia secara khusus diangkat menjadi guru bagi putranya. Al-Kindi mampu menghidupkan paham Muktazilah. Berkat peran Al-Kindi pula, paham yang mengutamakan rasionalitas itu ditetapkan sebagai paham resmi kerajaan.
Menurut al-Nadhim, selama berkutat dan bergelut dengan ilmu pengetahuan di Baitulhikmah, al-Kindi telah melahirkan 260 karya. Di antara sederet buah pikirnya itu telah dituangkan dalam risalah-risalah pendek yang tak lagi ditemukan. Karya-karya yang dihasilkannya menunjukan bahwa Al-Kindi adalah seorang yang berilmu pengetahuan yang luas dan dalam.
Ratusan karyanya itu dipilah ke berbagai bidang, seperti filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik, dan meteorologi. Bukunya yang paling banyak adalah geometri sebanyak 32 judul. Filsafat dan kedokteran masing-masing mencapai 22 judul. Logika sebanyak sembilan judul dan fisika 12 judul. 

Al-Farabi
Second teacher alias mahaguru kedua. Begitulah Peter Adamson pengajar filsafat di King’s College London, Inggris, menjuluki al-Farabi sebagai pemikir besar Muslim pada abad pertengahan. Dedikasi dan pengabdiannya dalam filsafat dan ilmu pengetahuan telah membuatnya didaulat sebagai guru kedua setelah Aristoteles: pemikir besar zaman Yunani.
Sosok dan pemikiran al-Farabi hingga kini tetap menjadi perhatian dunia. Dialah filosof Islam pertama yang berhasil mempertalikan serta menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam. Sehingga, bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu. Pemikirannya begitu berpengaruh besar terhadap dunia Barat.
”Ilmu Logika al-Farabi memiliki pengaruh yang besar bagi para pemikir Eropa,” ujar Carra de Vaux. Tak heran, bila para intelektual merasa berutang budi kepada Al-Farabi atas ilmu pengetahuan yang telah dihasilkannya. Pemikiran sang mahaguru kedua itu juga begitu kental mempengaruhi pikiran-pikiran Ibnu Sina dan Ibnu Rush.
Al-Farabi atau  masyarakat Barat mengenalnya dengan sebutan Alpharabius memiliki nama lengkap Abu Nasr Muhammad ibn al-Farakh al-Farabi. Tak seperti Ibnu Khaldun yang sempat menulis autobiografi, Al-Farabi tidak menulis autobiografi dirinya.
Tak ada pula sahabatnya yang mengabadikan latar belakang hidup sang legenda itu, sebagaimana Al-Juzjani mencatat jejak perjalanan hidup gurunya Ibnu Sina.Tak heran, bila muncul beragam versi mengenai asal-muasal Al-Farabi. Ahli sejarah Arab pada abad pertengahan, Ibnu Abi Osaybe’a, menyebutkan bahwa ayah Al-Farabi berasal dari Persia. Mohammad Ibnu Mahmud Al-Sahruzi juga menyatakan Al-Farabi berasal dari sebuah keluarga Persia.  hri/taq

 taken from :www.republika.co.id/24 Maret 2009

Iklan

Maret 24, 2009 Posted by | Agama | Tinggalkan komentar

A POEM FOR GAZA

By Remi Kanazi

I never knew death until I saw the bombing of a refugee camp
Craters filled with disfigured ankles and splattered torsos
But no sign of a face, the only impression a fading scream
I never understood pain
Until a seven-year-old girl clutched my hand
Stared up at me with soft brown eyes, waiting for answers
But I didn’t have any
I had muted breath and dry pens in my back pocket
That couldn’t fill pages of understanding or resolution

In her other hand she held the key to her grandmother’s house
But I couldn’t unlock the cell that caged her older brothers
They said, we slingshot dreams so the other side will feel our father’s presence
A craftsman
Built homes in areas where no one was building
And when he fell, he was silent
A .50 caliber bullet tore through his neck shredding his vocal cords
Too close to the wall
His hammer must have been a weapon
He must have been a weapon
Encroaching on settlement hills and demographics

So his daughter studies mathematics
Seven explosions times eight bodies
Equals four Congressional resolutions
Seven Apache helicopters times eight Palestinian villages
Equals silence and a second Nakba
Our birthrate minus their birthrate
Equals one sea and 400 villages re-erected
One state plus two peoples…and she can’t stop crying
Never knew revolution or the proper equation
Tears at the paper with her fingertips
Searching for answers
But only has teachers
Looks up to the sky and see stars of David demolishing squalor with hellfire missiles

She thinks back words and memories of his last hug before he turned and fell
Now she pumps dirty water from wells, while settlements divide and conquer
And her father’s killer sits beachfront with European vernacular
She thinks back words, while they think backwards
Of obscene notions and indigenous confusion

This our land!, she said
She’s seven years old
This our land!, she said
And she doesn’t need a history book or a schoolroom teacher
She has these walls, this sky, her refugee camp
She doesn’t know the proper equation
But she sees my dry pens
No longer waiting for my answers
Just holding her grandmother’s key…searching for ink

  Taking from Al Jazeera.com  20 januari 2009

Januari 21, 2009 Posted by | Peristiwa | Tinggalkan komentar

Kimia Kebahagiaan I

Kenali diri,

Pintu Mengenal ALLAH

 

Tidakada yang lebih dekat dengan diri kita, kecuali kita sendiri. Jika seseorang tidak mengetahui dirinya sendiri, bagaimana dia mampu mengetahui segala sesuatu yang lain. Dalam hubungannya dengan sifat religiousitas seseorang yang ingin selalu dekat Sang Maha Pencipta, maka keinginan itu haruslah diawali dengan pengetahuan tentang Tuhan. Dan pengetahuan tentang diri adalah kuncinya. Sesuai dengan hadist, “Dia yang mengetahui dirinya sendiri, akan mengetahui Tuhan”.

            Pengetahuan tentang diri kita sebenarnya berawal dari serangkaian pertanyaan. Siapakah kita, dan dari mana kita dating? Kemana kita pergi, apa tujuan kita dating lalu tinggal sejenak disini, serta kemanakah kebahagiaan kita dan kesedihan kita yang sebenarnya berada ?. Maka sebelum kita mengetahui tentang kita, sebaiknya kita fahami bahwa dalam diri manusia ada sifat-sifat binatang, sebagian sifat-sifat setan dan selebihnya sifat-sifat malaikat, yang harus dipilah menjadi sifat-sifat yang aksidental dan sifat-sifat esensial. Jika kita ingin mempunyai sifat-sifat malaikat kitapun harus berjuang mencapai itu agar mampu kita kenali dan renungi Dia Yang Maha Tinggi. Kita pun harus menemukan sebab manusia diciptakan dengan dua insting hewani sehingga kita mampu menundukkannya.

 Untuk menuju pengetahuan tentang diri, kita harus menyadari bahwa manusia terdiri dari bentuk luar yang disebut jasad, dan wujud dalam yang disebut hati atau ruh. Hati bukanlah sepotong daging yangterletak di bagian kiri badan, tetapi ia mempunyai unsure-unsure lain sebagai alat dan pelayanannya. Ia pada hakikatnya tidak termasuk dalam dunia kasat mata, melainkan dunia maya. Hakikat hatipun dapat diperoleh seseorang yang mengatupkan matanya dan melupakan segala sesuatu di sekitarnya selain individualitsnya. Dengan itu, ia sekilas akan melihat sifat individualitasnya yang tak berujung. Dan yang bisa ketahui dari ruh adalah ia merupakan suatu esensi tak terpisahkan yang termasuk dalam dunia titah, dan ia tidak berasal dari sesuatu yang abadi melainkan diciptakan. Pengetahuan tentang diri muncuk akibat displin diri dan kesabaran diatas lintasan agama, sebagaimana dalam Al Ankabut : 69, “ Siapa yang berjuang di jalan Kami, pasti akan kami tunjukkan padanya jalan yang lurus”.

  Demi mendapatkan pengetahuan tentang diri dan tentang Tuhan, jasad bisa digambarkan sebagai suatu kerajaan, jiwa (ruh) sebagai rajanya serta berbagai indera dan unsur-unsur  lain sebagai tentaranya. Nalar   sebagai wazir atau perdana menteri, nafsu sebagai pemungut pajak dan amarah sebagai petugas polisi. Dengan berpura-pura mengumpulkan pajak, nafsu terus-menerus merampas demi kepentingannya sendiri, sementara amarah selalu cenderung kepada kekasaran dan kekerasan. Pemungut pajak dan petugas polisi keduanya harus selalu ditempatkan di bawah raja, tetapi tidak dibunuh atau diungguli, mengingat mereka memiliki fungsi-fungsi tersendiri. Tapi jika nafsu dan amarah menguasai nalar, maka – tak bisa tidak – keruntuhan jiwa pasti terjadi. Jiwa yang membiarkan unsur-unsur yang lebih rendah untuk menguasai yang lebih tinggi ibarat seseorang yang menyerahkan seorang bidadari kepada kekuasaan seekor anjing, atau seorang muslim kepada tirani seorang kafir.

            Selanjutnya, jiwa rasional di dalam manusia penuh dengan keajaiban pengetahuan maupun kekuatan. Pancaindera kita bagaikan lima pintu yang terbuka menghadap ke dunia luar. Tetapi ajaib dari semuanya ini, hatinya memiliki jendela yang terbuka ke arah dunia ruh yang tak kasat-mata. Dalam keadaan tertidur, ketika inderanya tertutup, jendela ini terbuka dan  menerima kesan-kesan dari dunia tak-kasat-mata; kadang-kadang bisa ia dapatkan isyarat tentang masa depan. Hatinya bagaikan sebuah cermin yang memantulkan segala sesuatu yang tergambar di dalam Lauhul-mahfuzh. Bahkan dalam keadaan tidur, pikiran-pikiran akan segala sesuatu yang bersifat keduniaan akan memburamkan cermin ini, sehingga kesan-kesan yang diterimanya tidak jelas. Meskipun demikian setelah mati pikiran-pikiran seperti itu sirna dan segala sesuatu tampak dalam hakikat-telanjangnya. Dan kata-kata di dalam al-Qur’an pun menyatakan: “Telah Kami angkat tirai darimu dan hari ini penglihatanmu amat tajam.”

Membuka sebuah jendela di dalam hati yang mengarah kepada yang tak-kasat-mata ini juga terjadi di dalam keadaan-keadaan yang mendekati ilham kenabian, yakni ketika intuisi timbul di dalam pikiran -tak terbawa lewat saluran-indera apa pun. Makin seseorang memurnikan dirinya dari syahwat-syahwat badani dan memusatkan pikirannya pada Tuhan, akan makin pekalah ia terhadap intuisi-intuisi seperti itu. Intuisi-intuisi seperti itu tidak  terbatas hanya pada tingkatan kenabian saja. Sebagaimana  besi, dengan memolesnya secukupnya, ia  bisa  menjadi sebuah cermin. Dengan disiplin yang memadai, pikiran siapa pun mampu menerima kesan-kesan seperti itu. Kebenaran inilah yang diisyaratkan oleh Nabi ketika beliau berkata: “Setiap anak lahir dengan suatu fitrah (untuk menjadi muslim); orang tuanyalah yang kemudian membuatnya menjadi seorang Yahudi, Nasrani atau Majusi.” Setiap manusia, di kedalaman kesadarannya, mendengar pertanyaan “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” dan menjawab “Ya”. Tetapi ada hati yang menyerupai cermin yang telah sedemikian dikotori oleh karat dan kotoran sehingga tidak lagi memberikan pantulan-pantulan yang jernih. Sementara hati para nabi dan wali, meskipun mereka juga mempunyai nafsu seperti kita, sangat peka terhadap segenap kesan-kesan ilahiah.

            Akan tetapi bukan dengan nalar pengetahuan capaian dan intuisi saja jiwa manusia bisa menempati tingkatan paling utama di antara makhluk lainnya, tetapi juga dengan nalar kekuatan. Dan pencapaian kebenaran ruhaniah dapat pula terhambat oleh pengetahuan yang didapat secara eksternal. Misalnya,  hati kita gambarkan sebagai sumur dan pancaindera sebagai lima aliran yang terus menerus membawa air ke dalamnya. Agar dapat mengetahui kandungan hati, makan aliran itu harus dihentikan sesaat. Kebahagiaan memang terkait dengan pengetahuan tentang Tuhan. Seseorang yang kehilangan  keinginan tentang Tuhan bagaikan kehilangan selera terhadap makanan sehat. Pengetahuan kita tentang Tuhan timbul dari kajian dan renungan atas jasad kita sendiri yang menampakkan kebijaksanaan, kekuasaan serta cinta Sang Pencipta. Dengan Kuasa-Nya, terbangun kerangka tubuh manusia yang luar biasa hanya dari satu tetesan belaka. Kebijakan-Nya terungkap dalam kerumitan jasad kita yang unsur-unsurnya saling menyesuaikan. Struktur jasad mesti kita pelajari bukan untuk menjadi dokter, tetapi mencapai pengetahuan yang dalam tentang Tuhan.

            Kebesaran jiwa manusia yang sebenarnya terletak pada kapasitasnya untuk terus menerus meraih kemajuan. Jika tidak, dalam ruang temporal ini, ia akan menjadi makhluk paling lemah diatas segalanya-takluk oleh kelaparan, kehausan, panas, dingin dan penderitaan. Sesuatu yang palinmg ia senangi sering menjadi sesuatu yang paling berbahaya baginya. Sesuatu yang menguntungkan hanya bisa ia peroleh dengan kesusahan dan kesulitan.

            Maka manusia di dunia ini sungguh lemah dan hina. Hanya di dalam kehidupan yang akan datang ia akan mempunyai nilai. Perlu bagi kita untuk menimbulkan kesadaran sebagai makhluk terbaik, dan belajar mengetahui ketidakbedayaan kita. Amin

 

Dirangkum oleh Ramadhonus dari Pengetahuan  Tentang Diri, dalam  Imam Ghazali, The Alchemy of Happiness, Asharaf Publication, Lahore, 1979

 

 

 

Desember 31, 2008 Posted by | Agama | Tinggalkan komentar

Hubungan Doa, ikhtiar, dan Takdir

Ketika Nabi Ibrahim menempatkan putranya yang masih bayi, yakni Ismail, dan istrinya, yaitu Siti Hajar, di suatu lembah yang dikenal dengan sebutan Bakka. Istrinya bertanya, “Allahu amaraka bihaadza (Apakah ini perintah Allah)?”, Ibrahim menjawab, “Ya.” Mendengar jawaban ini, Sti Hajar berkata, “Kalau begitu aku merasa tenang karena aku yakin Allah tidak akan meninggalkanku.”

Lembah Bakka merupakan suatu tempat yang sangat tandus, di sana tidak terdapat pepohonan dan sumber air, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Allah menggambarkannya dalam Surat Ibrahim (14) ayat 37 dengan ungkapan bi waadin ghairi dzii zar’in, artinya lembah yang tidak ada pepohonan. Kalimat ini menunjukkan bahwa tempat tersebut secara lahiriah bisa menyebabkan kematian.

Tidak lama setelah Nabi Ibrahim meninggalkannya, Sitir Hajar melihat anaknya menangis kehausan. Hajar berikhtiar mencari sumber air. Ia berlari ke bukit Shafa karena terlihat seperti ada genangan air, ternyata tidak ada apa-apa, itu hanya fatamorgana. Hajar menoleh ke belakang, ia melihat lagi seperti ada genangan air di bukit Marwah, ia pun berlari menuju tempat itu, ternyata tidak menemukan apa-apa, itupun hanya fatamorgana.

Hajar tidak putus asa, ia bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah sampai merasakan kelelahan yang luar biasa. Akhirnya, ia kembali menghampiri putranya yang terus-menerus menangis, dan … subhanallah ternyata dari dekat kaki putranya yang tengah meronta keluar mata air yang jernih dan sampai sekarang air itu masih terus mengalir, yang dikenal dengan sumur Zamzam.

Peristiwa ini mengajarkan pada kita bahwa keyakinan akan pertolongan Allah, doa, serta ikhtiar adalah tiga hal yang tidak terpisahkan. Dalam setiap keadaan, sesulit apa pun itu, kita harus selalu berprasangka baik pada Allah bahwa Allah Yang Maha Berkuasa akan menolong kita, Allahlah satu-satunya sumber pengharapan dan tempat bergantung kita.

Keyakinan akan adanya pertolongan dan kekuasaan Allah ini kemudian ditindaklanjuti dengan kekhusuan berdoa. Doa merupakan gambaran kedekatan hamba dengan Allah swt. dan gambaran bahwa kita yakin hanya Allah tempat bergantung dan yang bisa menyelesaikan kesulitan yang kita hadapi. Jangan pernah berhenti untuk berdoa, berdoa, dan berdoa.

Jangan lupa, doa yang tulus harus dibarengi dengan ikhtiar yang tiada henti, usaha yang tiada lelah, dan kerja keras yang tak pernah padam. Siti Hajar yakin kalau Allah akan menolongnya, namun ia tidak berpangku tangan menunggu pertolongan Allah. Siti Hajar berlari bolak-balik dari Shafa ke Marwah, dan dari Marwah ke Shafa, ia kerahkan segala daya dan usahanya untuk mendapatkan apa yang dicarinya.

“… Berusahalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat usahamu …” (Q.S. At-Taubah 9:105)

“… Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Q.S. Ar-Ra’du 13: 11)

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh maka pahalanya untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka dosanya atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya.” (Q.S. Fushshilat 41: 46).

Kalau sudah berikhtiar dan berdoa ternyata tidak membuahkan hasil seperti yang kita harapkan, yakinlah bahwa di balik semua kegagalan pasti ada hikmah yang lebih baik. Boleh jadi kita membenci sesuatu, namun di balik itu ada hikmah kebaikan. Sebaliknya, boleh jadi kita menyukai sesuatu, namun di balik itu ada keburukan. Karenanya, kita harus selalu berprasangka baik pada Allah, bahwa Allah hanya akan memberikan yang terbaik untuk kita.

“… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah 2: 216)

Siap menerima hasil apa pun setelah kita berdoa dan berikhtiar dengan sungguh-sungguh. Inilah yang disebut percaya kepada takdir Allah yang baik ataupun yang buruk. Percaya kepada takdir akan melahirkan jiwa syukur saat kita sukses dan akan bersabar saat kita mengalami kegagalan. Itulah hubungan antara doa, ikhtiar, dan percaya kepada takdir.
Wallahu a’lam

 

Mei 2, 2008 Posted by | Agama | Tinggalkan komentar

Cara Islami Berkepribadian Menyenangkan

Untuk memiliki kepribadian yang menyenangkan bukanlah sesuatu yang sulit

Untuk mempunyai kepribadian yang menyenangkan dan disenangi orang bukanlah sesuatu yang sulit ataupun sullit diwujudkan, yang pasti ada masih banyak cara untuk memperolehnya. Namun yang terpenting adalah adanya kemauan dalam diri kita untuk memiliki kepribadian yang menyenangkan. Sebab dengan memiliki kepribadian ini bukan hanya dapat mempengaruhi kesehatan jasmani dan ruhani orang yang memilikinya, akan tetapi ia juga akan mendapatkan orang lain merasa nyaman berada di sisinya.

Maka dari itu, memiliki kepribadian yang menyenangkan bukan saja harus dimiliki oleh seorang dai yang setiap hari tugasnya adalah menyampaikan risalah dakwah kepada masyarakat, namun juga oleh siapapun, dan pada profesi apapun. Sebab hakekatnya manusia di manapun sama. Ia akan tertarik kepada sesuatu yang ia lihat menyenangkan, dan akan lari dari sesuatuyang terlihat menjengkelkan.

Betapa senang dan gembira hati kita, ketika kita mendapatkan banyak orang yang menghargai kita, menghormati kita, memperdulikan kita, namun bukan karena ada apa-apanya, tetapi semata-mata karena memang kita memiliki kepribadian yang menyenangkan. Sungguh sangat sengsara dan menderita seseorang yang selalu mendapatkan pujian orang banyak, sanjungan, perhatian, penghargaan, dan lain-lain, hanya karena orang-orang tersebut takut akan ketidakstabilan emosinya yang kemungkinan bakal mengancam masa depan hidupnya. Percayalah bahwa semua hal yang ia dapatkan berupa sanjungan itu hanyalah semu belaka dan tidak akan bertahan lama. Hal ini karena pujian itu tidak keluar dari dalam hati yang paling dalam, karena ia muncul bersamaan dengan adanya kepribadian yang tidak menyenangkan.

Dalam kesempatan ini, akan saya sampaikan bagaimana cara islami memiliki kepribadian yang menyenangkan, semoga dapat merubah hidup kita menjadi lebih dicintai oleh manusiasemata-mata karena mereka merasa nyaman berada di sisi kita.

1. Memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan orang lain.

Salah satu sifat seorang muslim yang berjiwa besar adalah, dalam dirinya selalu tersimpan rasa ingin selalu berkhidmat kepada orang lain dan bukan meminta dikhidmati oleh orang lain. Karena ia merasa yakin bahwa sebanyak itu ia memberikan perhatian kepada orang, sebanyak itu pula ia akan mendapatkan perhatian dari orang lain. Orang lain tak ubahnya sebagai refleksi dari pada diri kita sendiri.

Pepatah melayu mengatakan, “jika buruk wajah jangan lalu cermin yang dipecah” tetapi perbaikilah bentuk dan raut wajah, niscaya cermin itu dengan sendirinya akan mengeluarkan pantulan yang indah. Nah, salah satu yang dapat memantulkan bayangan indah dari cermin orang lain itu adalah prilaku kita yang senantiasa ingin memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan orang lain. Tidak ada yang dapat membahagiakan hati kita, kecuali jika kita telah benar- benar membantu dan meringankan beban orang lain, tentu dengan satu keyakinan bahwa Allah Swt.akan senantiasa meridoi segala apa yang kita perbuat.
Ada satu hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Abu Dawud, di mana Nabi Saw bersabda, “Barangsiapa yang diserahi amanat untuk mengurus kebutuhan umat, namun ia lalai atau tidak memperdulikan kebutuhan, kepentingan dan keterdesakan mereka, maka Allah swt. akan memperlakukannya sama dengan tidak akan memperdulikan kebutuhan, kepentingan dan keterdesakannya di akherat kelak“.

2. Lemah lembut dan dapat mengontrol emosi

Dalam hidup ini, terkadang dalam hati kita sudah tertanam untuk tidak melakukan perbuatan buruk yang bakal merugikan orang lain, namun perbuatan buruk itu bisa jadi muncul dari orang lain. Ada saja perbuatan orang lain yang membuat kita merasa jengkel dan panas hati, boleh jadi perbuatan tersebut disengaja atau tanpa disadarinya. Seseorang yang memiliki kepribadian yang menyenangkan, ia tidak lantas main hantam dan menyalahkan secara kasar. Namun yang ia lakukan adalah memberikan masukan secara bijak dan penuh kearifan. Boleh jadi dengan kearifannya ini akan membekas di hati orang yang berbuat salah kepadanya, sehingga di hari kemudian orang tadi menjadi orang yang selalu merasa takut berbuat kesalahan sekecil apapun berkat nasehat dan masukan yang arif tersebut.

Sungguh besar pahala kita jika kita mampu merubah jalan hidup orang lain hanya semata-mata sikap lemah lembut dan kemampuan kita mengontrol emosi itu. Ketimbang, jika yang kita lakukan adalah memaki dan memarahinya seolah-oleh tidak ada kata maaf dan introspeksi dalam kamus diri kita. Rosulullah Saw. adalah tauladan yang paling baik, bagaimana beliau bersikap terhadap orang ‘ndeso’ yang pernah menjambak selendang beliau di tengah orang banyak secara kasar, sampai-sampai akibat jambakan tersebut leher Rosulullah merah memar. Lalu orang itu dengan keras berkata, “Wahai Muhammad beriakanlah sebagian harta yang kau miliki…” Para Sahabat yang ada di sekitar nabi ingin marah, tapi sikap Rasulullah ketika itu malah memberikan senyumannya kepada orang itu, lalu dengan penuh kasih sayang beliau berikan seledang yang beliau punya kepada orang tadi.

3. Mampu memberikan reward dan empatik kepada orang lain

Salah satu ciri orang yang memiliki kepribadian yang menyenangkan adalah ia mudah memberikan reward atau penghargaan berupa pujian tulus kepada orang yang telah berbuat baik sekecil apapun. Kata-kata seperti, “oh, memang betul-betul hebat kamu yah, atau, “wah, coba kalau tidak ada kamu tadi, bisa lain urusannya”, dan lain-lain yang menggambarkan bahwa kita benar-benar dapat menghargai karyacipta orang lain. Coba kita bandingkan dengan ungkapan berikut, “ah, kalau itu sih siapa juga bisa”, atau “yah, lumayan lah nggak jelek-jelek banget sih” dan yang semisalnya.
Betapa kata-kata ini menampakkan kita belum dapat menghargai apa yang dilakukan orang lain. Coba kita lihat bagaimana Rosulullah ketika ada sesorang yang sedang bicara dengannya, maka dengan penuh khusuk beliau hadapkan badan, telinga, dan matanya untuk memperhatikan lawan bicaranya, dan tidak pernah beliau memotong pembicaraan orang tersebut, sampai ia benar-benara telah selesai dari pembicaraannya. Hal ini betapa beliau mengajarkan kepada kita untuk selalu menghargai orang lain, dan inilah caranya agar kita dapat memiliki kepribadian yang menyenangkan sehingga orang lain merasa nyaman berada di sisi kita.

4. Tidak membuang muka kepada orang yang suka maksiat

Dalam lingkungan kita terkadang ada orang yang dianggap sampah masyarakat. Kegemarannya adalah mencari keonaran dan membuat kerusuhan dalam masyarakat. Banyak orang yang dalam menghadapi orang semcam ini, malah mengucilkannya. Sampai-sampai ada kesepakatan untuk tidak melakukan hubungan dengan orang tersebut. Sebagai seorang muslim yang kuat, yang tentunya memiliki keyakinan akan adanya kebaikan dalam diri orang tersebut, kita tidak boleh lekas-lekas memutuskan hubungan dengannya.

Akan tetapi kita berusaha untuk selalu mencari celah mengajaknya kembali kepada jalan yang benar. Bahkan harus kita ciptakan strategi yang membuatnya dapat luluh untuk menjauhi perbuatan-perbuatan yang tercela itu. Terkadang untuk mewujudkan hasil ini, perlu sesekali kita mengikuti dunia hitam yang orang itu geluti seperti dunia malam, hiburan, perjudian, dll…namun ada satu misi yang kita tuju, yaitu kita akan merubah jalan hidup orang tersebut sekiranya kita telah berhasil meraih hati orang tersebut.

Ada satu contoh yang menarik dari cara dakwah seorang wali songo yang ikut menggunakan wasilah musik dan kesenian daerah untuk dijadikan sarana dakwah, ia gunakan wasilah yang sama namun isi dari pertunjukan itu ia rubah menjadi nada-nada dakwah kepada jalan Allah. Berapa banyak orang yang awalnya tidak tau agama lalu menjadi tertarik dengan ajaran agama dengan cara seperti itu. Kuncinya adalah, agar kita tidak lekas memandang sebelah mata terhadap orang-orang yang kadung dianggap sebagai sampah masyarakat.

5. Tidak bersikap angkuh

Banyak orang mengira bahwa dengan bersikap angkuh akan menjadikan diri kita disegani oleh orang lain, yang betul justru sebaliknya orang akan enggan bergaul dengan kita. Dalam realitas hidup bisa jadi ada orang yang merasa minder melihat kesuksesan hidup yang diraih oleh kita misalnya, rasa minder ini lalu akan melahirkan rasa rendah diri dan kurang bersahabat dengan kita. Pada saat inilah kita perlu menunjukkan sikap rendah hati kita untuk memulai mencairkan kondisi dengan bersikap ramah dan tawadu kepada mereka. Hal ini pula yang pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw, ketika ada seseorang yang hendak menghadap kepada beliau untuk suatu keperluan, namun karena besarnya wibawa rasulullah maka orang tersebut menjadi gugup dan tidak percaya diri, dengan santun kanjeng Nabi berkata, “santai saja, Aku bukanlah Malaikat, aku hanyalah seorang anak ibu dari suku Quraisy yang juga sama-sama makan bubur nasi”.

Sikap tawadu inilah yang membuat suasana menjadi cair dan berjalan normal, sehingga orang lain merasa senang berada disisi kita. Lalu coba kita bedakan dengan sikap syetan yang berkata, “sesungguhnya Aku lebih mulia dari Adam, karena aku diciptakan dari api, sedang Adam dari tanah,” (Q.S. Shad:76).

Demikianlah di antara cara bagaimana memiliki kepribadian yang menyenangkan, semoga dengan bekal cara ini kita dapat memperoleh target dari sebuah pergaulan hidup yaitu menyebarkan keindahan-keindahan ajaran Allah Swt, baik dengan cara lisan maupun dengan amal perbuatan. Siapa tau, banyak orang yang tertarik kepada Islam bukan hanya disebabkan keindahan ajarannya saja, namun karena ketertarikan mereka kepada perangai yang menyenangkan dari yang kita miliki itu. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

 

Mei 2, 2008 Posted by | Agama | Tinggalkan komentar

CINTA SEJATI

Cinta yang sejati ialah cinta yang tidak bertambah kerana kebaikan dan tidak berkurang kerana kesalahan ~ Yahya Bin Muadz

Cinta sejati bertapak pada rasa saling menghargai ~ Niller

Cinta sejati tidak memandang wang, tetapi wang sangat penting untuk memelihara cinta. ~Hukamak

Cinta sejati mempunyai tempat hanya untuk dua orang, tidak ada bagi orang ketiga ~ Gorji Zaidan

Cinta yang sejati berdiri atas dasar hormat ~ Buckingham

Cinta sejati ialah cinta ibu kepada anaknya.

Cinta sejati daripada seorang perempuan memberi sayap kepada lelaki, sebaliknya cinta yang palsu memberi belenggu ~ Daer Oberderf

Cinta yang sejati hanya dapat dilihat dari sinar pandangan mata ~ Kruger

April 29, 2008 Posted by | Cinta | Tinggalkan komentar

Kearifan cinta

KEARIFAN CINTA

CINTA yang dibangkitkan
oleh khayalan yang salah
dan tidak pada tempatnya
bisa saja menghantarkannya
pada keadaan ekstasi.

Namun kenikmatan itu,
jelas tidak seperti bercinta dengan kekasih sebenarnya
kekasih yang sedar akan hadirnya seseorang yang

mencintainya ini
sebagaimana kenikmatan lelaki
yang memeluk tugu batu
di dalam kegelapan sambil menangis dan meratap.

Meskipun dia merasa nikmat
kerana berfikir bahawa yang dipeluk adalah kekasihnya, tapi

jelas tidak senikmat
orang yang memeluk kekasih sebenarnya
kekasih yang hidup dan sedar.

~ Jalaluddin Rumi

April 25, 2008 Posted by | Cinta | Tinggalkan komentar

Ahmadiyah, Ada apa……..?

Penolakan ummat Islam terhadap gerakan Ahmadiyah adalah sesuatu yang wajar. Karena ajaran-ajaran ahmadiyah ternyata telah banyak menyimpang dari ajaran Islam, bahkan dengan seenak “udel”-nya menterjemahkan ayat-ayat al qur’an yang mengarah kepada pengukuhan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Al Masih.  Padahal konon, bagi mahasiswa Indonesia yang pernah belajar di Pakistan,terutama Lahore, istilah mirza diidentikkan dengan “Mirhad”. Maka cukup dua solusi, bagi pengikut Ahmadiyah, keluar dari ajaran Islam dan membuat agama baru, atau kembali ke ajaran Islam yang sebenarnya.

April 25, 2008 Posted by | Komentar | Tinggalkan komentar

PROFIL GURU PESANTREN( Antara Keterbatasan dan Profesionalisme)

PROFIL GURU PESANTREN

( Antara Keterbatasan dan Profesionalisme)[1]

Oleh : Ramadhonus 

A.    MUQADDIMAH           

 Guru secara bahasa berarti  orang yang kerjanya mengajar[2]. Sehingga, dapat didefinisikan bahwa guru adalah pekerjaan profesional yang secara historis tidak saja mengajar di depan kelas tetapi merupakan pendidik yang mengandung makna pelayanan luhur dan terkandung di dalamnya noblestvocation ( jabatan mulia).[3] Bahkan keberadaan guru sebagai tenaga pendidik telah mendapat pengakuan secara legal dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab XI pasal 39 ayat 2 :            Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama pendidik pada perguruan tinggi.” [4]            Sebagai tugas profesional, apa yang dilakukan guru tidaklah sedikit, yang apabila dikelompok mempunyai 3 (tiga) jenis tugas utama, yaitu :Pertama, tugas guru dalam bidang profesi adalah mendidik, mengajar dan melatih. Guru sebagai pendidik bermakna meneruskan  dan mengembangkan nilai-nilai hidup pada diri siswa. Guru sebagai pengajar, berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi demi masa depan siswa yang berujung pada masa depan bangsa dan kemajuan bangsa. Dan sebagai pelatih, berarti guru mengembangkan keterampilan dan potensi yang ada pada siswa.Kedua, tugas guru dalam bidang kemanusiaan berarti bahwa guru di sekolah bertindak sebagai orang tua kedua yang harus mampu menarik simpati  para siswanya sehingga pelajaran apapun yang diberikannya dapat menjadikan motivasi bagi siswanya dalam belajar.Ketiga, kemasyarakatan, dan tugas guru dalam bidang ini menempatkan peranan guru dalam masyarakat sebagai komponen strategis yang dapat menentukan gerak maju kehidupan bangsa. Keberadaannyapun merupakan faktor condisio sine quanon yang tidak mungkin digantikan oleh komponen manapun dalam kehidupan suatu bangsa.[5]            Pada dataran selanjutnya, keberadaan guru di pesantren haruslah dipahami sebagai bagian integral dari sebuah sistem pendidikan yang berasrama (Boarding School) dan tidak bisa terlepas dari akar sejarahnya sebagai indegenious cultura[6] dimana guru dan murid (santri) berada dalam satu lingkungan dan dapat saling berinteraksi hampir setiap saat. Bahkan guru yang mengajar di pesantren itupun berasal dari pesantren yang sama atau juga alumni pesantren tersebut. Kondisi ini yang memungkinkan dapat menimbulkan hal-hal yang bersifat positif maupun negatif dalam proses interaksi guru dan murid. Eksistensi pesantren lembaga pendidikan keagamaan dari waktu-waktu terus mengalami bentuk dan sistem yang dianutnya. Akan tetapi secara garis besar terdapat 3 (tiga) bentuk pesantren, yaitu : Pertama, Pondok Pesantren Tradisional, dengan pola pengajarannya menerapkan sistem halaqoh yang dilaksanakan dimasjid atau surau. Inti dari sistem pengajaran pesantren ini adalah hafalan sehingga terciptanya santri yang menerima dan memiliki ilmu. Kurikulumnya pun tergantung para kyai dan pengasuh pesantren. Sedangkan para santrinya ada yang bermukim dan ada pula yang tidak menetap (santri kalong). Kedua, Pondok Pesantren Modern. Pesantren dengan tipe ini proses pembelajarannya mengadopsi sistem klasikal dengan menerapkan kurikulum yang baku baik secara nasional maupun kurikulum yang menjadi ciri khas pesantren itu sendiri. Ketiga, Pondok Pesantren Komprehensif. Pesantren dengan model ini memadukan antara sistem pendidikan tradisional dengan sistem pendidikan modern. Dalam artian pengajaran kitab-kitab klasik dengan metode sorogan, bandongan, dan wetonan tetap dilaksanakan namun secara reguler sistem modern juga diterapkan dan dikembangkan.[7]            Untuk itulah menjadi guru di pesantren haruslah tertanam benar-benar nilai-nilai Panca Jiwa Pesantren sehingga guru di pesantren mampu menjalankan amanah yang diberikan pimpinan pesantren. Dan sejalan dengan kondisi kekinian maka guru di pesantren sudah selayaknya mengembangkan 4 (empat) pilar pendidikan yang dicanangkan oleh UNESCO :1.      Learning to think (Belajar bagaimana berpikir).2.      Learning to do ( Belajar Hidup atau Belajar bagaimana berbuat).3.      Learning to be ( Belajar bagaimana tetap hidup atau sebagai dirinya).4.      Learning to live together ( Belajar untuk hidup bersama-sama). B.     BERAWAL DARI RASULULLAH SAW

                  Muhammad SAW diturunkan Allah sebagai Rasul terakhir pada dasarnya adalah seorang guru juga, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Jumu’ah : 2 ;

 هـو الذى بعث في الامـين رســولا منهــم يتلـوا عليهم أيتـه ويزكيـهم ويعلمهـمالكتب والحـكمة وإن كانـوامن قبل لفى ضـلال مبـين 

Dia lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”

 

Begitu pula dalam surat Al Baqarah : 151 dan164. Dan Rasulullah dalam menyampaikan dakwahnya dalam majlis-majlis pengajian selalu mendorong para sahabat-sahabatnya dengan cara menjelaskan tentang keutamaan ilmu dan mencari ilmu; dan membuat sahabatnya merasa membutuhkan ilmu. Dan diantara garis-garis besar pengajaran Rasulullah adalah[8] :

  1. Membiasakan untuk mengetahui alasan dan pijakan hukum.
  2. Membiasakan Metode dan Etika Bertanya.
  3. Memberi Jawaban tidak terbatas pada pertanyaan, melainkan menjawab dengan kiadah umum.
  4. Mendidik sahabat tentang Metode Belajar.
  5. Mendidik tentang Metode Bersika[p Kepada Dalil.
  6. Membiasakan Ber-Istimbath.
  7. Membiasakan Berdialog danb Muraja’ah (Evaluasi).
  8. Mendidik sahabat untuk memikul kewajiban Tabligh (Menyampaikan Ilmu).
  9. Mendorong dan memberi pujian.
  10. Memberi perhatian terhadap murid.
  11. Mengetahui Potensi dan Kemampuan Nalar.
  12. Memperhatikan perbedaan Pribadi.
  13. Mengarahkan kepada Spesialisasi yang sesuai.
  14. Menggabungkan antara Penajaran Pribadi dan Kolektif.
  15. Menghubungkan pengajaran dengan fenomena riil.
  16. Menggunakan sarana penunjang.
  17. Melakukan Penekanan pada materi-materi tertentu.
  18. Menghindari Pemecah Konsentrasi.
  19. Memperhatikan semangat dan kapasitas murid.
  20. Menggunakan berbagai macam metode agar menarik perhatian murid.
  21. Mengulangi ilmu dan hafalan.                       

      C.    KOMPETENSI GURUGuru sebagai tenaga pendidik haruslah mempunyai kompetensi profesional kependidikan baik yang bersifat kognitif, afektif dan performance. Kompetensi profesional tersebut mengarah kepada perbuatan yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan.[9] B.J. Chadler mengemukakan bahwa ciri mengajar sebagai suatu profesi adalah :Ø      Lebih mementingkan layanan daripada kepentingan pribadi.Ø      Mempunyai status yang tinggi.Ø      Memiliki pengetahuan yang luas.Ø      Memiliki kegiatan intelektual.Ø      Memiliki hak untuk memperoleh standar kualifikasi profesional.Ø      Mempunyai etik profesi yang ditentukan oleh organisasi profesi.[10]            Dan guru sebagai pekerja profesioanl, setidaknya harus mempunyai 4 (empat) kompetensi sebagai berikut :a.       Menguasai substansi, yaitu materi yang berkaitan dengan mata pelajaran yang dibinanya, sesuai dengan kurikulum yang diterapkan. Penguasaan substansi ini adalah bekal guru dalam mengajar dan mendidik dengan tepat, mantap dan penuh percaya ciri. Inilah salah satu kunci keberhasilan guru tersebut dalam menjalankan tugas profesionalnya.b.      Menguasai metodologi mengajar. Penguasaan akan hal ini merupakan hal mutlak diperlukan guru untuk mentransfer pengetahuan, kecakapan, dan nilai-nilai yang berkaitan dengan mata pelajaran yang dibinanya secara efektif dan efisien. Hal ini dapat dimaklumi, karena banyak orang yang memiliki pengetahuan mendalam tentang sesuatu, namun sukar mentransfer pemahamannya kepada orang lain.c.       Menguasai tehnik evaluasi dengan baik.   Dengan penguasaan tehnik evaluasi, guru dapat melakukan penilaian dengan benar terhadap proses dan hasil belajar. Penilaian yang benar akan menghasilkan informasi dan data terhadap pencapaian hasil belajar dalam proses pembelajaran siswa.d.      Memahami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai moral dan kode etik. Guru yang menjadikan moral dan kode etik profesi dalam menjalankan tugasnya akan dihargai eksistensinya oleh masyarakat dan lingkungannya. Guru pun akan lebih mudah melaksanakan proses belajar mengajar karena adanya perhatian siswa terhadap materi yang diberikan dikelas.[11]            Dalam buku ”Standar Kompetensi Pendidikan Agama Islam” dijelaskan bahwa Guru haruslah mempunyai 2 (dua) Kompetensi, yaitu :a.      Kompetensi Utama.1.      Kemampuan Akademik, yakni guru harus mendalami hal-hal sebagai berikut :a)      Memahami dengan baik dasar-dasar sosiologi dan psikologi pendidikan Islam dan umum.b)      Memahami karakter dan perkembangan psikologis, sosiologis dan akademik setiap siswa.c)      Memahami cara mengembangkan cara kecerdasan intelektual, emosional dan spritual anak didik.d)     Memahami kurikulum yang berlaku secara utuh, terutama yang menyangkut dengan maata pelajatan yang menjadi bidang tugasnya.e)      Memahami relevansi bidang studi yang diajarkan dengan ajaran-ajaran keislaman atau sebaliknya.f)       Memahami metode pembelajaran yang paling tepat dan mutakhir.g)      Memahami perencanaan, proses, dan evaluasi belajar yang tepat.h)      Memahami cara memanfaatkan jam belajar yang terbatas secara efektif.i)        Memahami cara penggunaan alat bantu (teknologi) dan sumber belajar secara tepat.j)        Memahami tujuan pendidikan dan pengajaran di Madrasah (Sesuai dengan tingkatannya).k)      Memahami tujuan pendidikan nasional.2.      Kemampuan menciptakan suasana belajar yang kondusif, yakni meliputi :a)      Menciptakan lingkungan Madrasah yang saling menghormati dan memahami.b)      Menanamkan agar siswa memberi penghargaan yang tinggi terhadap ilmu dan belajar.c)      Menanamkan kepada siswa agar merasa bangga dan percaya diri menjadi siswa madarasah.d)     Membiasa perilaku dan sikap yang sopan kepada yang lain.e)      Menumbuhkan sikap positif seperti tekun, menghargai dan menerima diri  dan tegas terhadap kenyataan yang dialami dan berfikir positif.f)       Membiasakan anak didik menjaga kebersihan dan merawat kepentingan umum.g)      Mengembangkan perilaku tepat waktu dan memenuhi janji.h)      Membangun hubungan emosianal yang erat antara siwa dan madarasah.i)        Berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang baik, jelas dan tepat.j)        Menggunakan berbagai pendekatan dalam pengajarank)      Melibatkan siswa secar maksimal dalam proses pembelajaran,l)        Memberi perhatian kepada setiap siswa dengan baik, serta mengevaluasi proses dan perkembangan belajar mereka.m)    Menunjukkan sikap mudah dihubungi, tidak kaku dan bertanggungjawab.b.      Kompetensi Pendukung.1.      Kemampuan Membangun Hubungan / Komunikasi, yang meliputi :a)      Mengutamakan kerja kolaboratif dan kolektif sesama guru dan warga madrasah lainnya.b)      Membangun lingkungan kerja yang bersahabat.c)      Membantu jalannya program dan kebijakan madrasah serta berpartisipasi di dalamnya.d)     Menjaga komunikasi dengan orang tua siswa dan masyarakat.e)      Berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat sekitar madrasah.f)       Menjaga kepercayaan warga madrasah.g)      Mengikuti peraturan dan prosedur yang berlaku dalam madrasah.h)      Menerima dan melaksanakan tanggungjwab yang diberikan.i)        Menjamin bahwa setiap siswa mendapat perlakuan dan kesempatan yang sama dalam belajar.j)        Menempatkan kesuksesan setiap siswa sebagai tujuan dari setiap langkah yang diambil.2.      Kemampuan Leadership, yaitu aspek kepemimpinan yang harus dimiliki, meliputi :a)      Memiliki dedikasi yang tinggi untuk meningkatkan prestasi siswa.b)      Mendorong anak didik untuk tidak tergantung pada orang lain dalam belajar.c)      Menunjukkan kemampuan dalam beradaptasi dan fleksibel.d)     Fokus pada pembelajaran dan pengajaran.e)      Menunjukkan sikap adil, tidak memihak atau mengistimewakan seorang anak lebih dari pada anak yang lain.f)       Memberi dukungan dan bantuan kepada sesama guru atau tenaga kependidikan lain yang menghadapi masalah.g)      Menunjukkan perilaku yang sopan dan bertanggungjawab.h)      Mengakui, menghargai dan memberi dukungan terhadap perbedaan pandangan.i)        Berpartisiapasi dalam kegiatan pengembangan keahlian dan mendorong guru-guru lain untuk juga mengikutinya.j)        Mengelola sumber-sumber yang ada secara efektif dan benar.k)      Mendorong dan sebisa mungkin serta memfasilitasi guru lain untuk mengembangkan diri3.      Kemampuan dalam mengembangkan diri.            Guru yang baik adalah guru yang mampu mengembangkan dirinya dan kemampuan profesionalnya terus menerus, yang dalam hal ini meliputi :a)      Mengambil inisiatif dalam mengembangkan kemampuan diri tanpa perlu menunggu instruksi atasan.b)      Menyediakan waktu untuk membaca dan mempelajari metode mengajar terkini.c)      Melakukan refleksi dan riset sederhana terhadap pengajaran sendiri secara berkala.d)     Mengikuti pelatihan-pelatihan atau pertemuan-pertemuan nonformal tentang pendidikan.e)      Melakukan dialog-dioalog informal untuk berbagai pengalaman dengan sesama guru.f)       Memberi bantuan baik secara langsung maupun tertulis kepada guru-guru lain.g)      Mendorong sesama guru dan tenaga kependidikan lainnya untuk melakukan kerja kolektif dalam memberi masukan bagi perbaikan praktek pengajaran.[12]            Dari parameter-parameter diatas maka kualitas guru yang dapat mempengaruhi keberhasilan prestasi belajar siswa dapat tercapai. Kualitas gurupun akan dapat mempengaruhi kualitas mengajar yang baik. Dan untuk mengetahui guru yang mempunyai kualitas mengajar yang tinggi dan kualitas mengajar yang rendah, Richey menjelaskan 5 (lima) variabel yang berisikan 20 indikator.[13] Kelima variabel tersebut adalah :1.      Bekerja dengan siswa secara individual.2.      Persiapan dan Perencanaan mengajar3.      Pendayagunaan alat pelajaran4.      Melibatkan siswa dalam berbagai pengalaman belajar5.      Kepemimpinan aktif dari guru. D.    PENUTUP                   Menjadi guru yang baik dan professional sudah seyogyanya mampu menciptakan lingkungan belajar yang baik, karena guru yang baik tidaklah mencari taman bunga tetapi menciptakan taman bunga.                                                                                 Madinatunnajah, 17 Pebruari 2008                      

Lampiran :

Kualitas Mengajar Guru

Variabel Indikator Kualitas Mengajar yang Tinggi Indikator Kualitas Mengajar yang Rendah
1.  Bekerja dengan siswa secara individuala.       Tugas-Tugas     b.      Hubungan guru – siswac.       Percakapan antara guru-siswa d.  Pekerjaan siswa    2.  Persiapan dan Perencanaan Mengajara.   Tiap hari secara kontiniu. b.  Pengetahuan Guru    c.   Rencana pelajaran  d.  Pengaturan selanjutnya3.  Penggunaan alat bantu mengajara.   Penggunaan buku pelajaran. b.  Penggunaan AVA  c.   Penggunaan bahan-bahan perpustakaan   d.  Penggunaan perjalanan sekolah sebagai alat bantu belajar4.  Mengukutsertakan siswa dalam berbagai pengalaman belajara.   Jenis pengalaman belajar b.  Merencanakan bersama antara guru dan murid  c.   Tanggungjawab siswa   d.  Cara memberi motivasi 5.  Kepemimpinan aktif siswaa.   Mengikutsertakan siswa sebagai pimpinan b.  Mendayagunakan permainan dan pengalaman lalu berbagai variasi yang bersifat hiburanc.   Memecahkan masalah siswa  d.  Diskusi    a. Memberi tugas secara individub. Sangat pribadi dan  penuh keakrabanc.  Sering diadakan untuk menolong siswa d.  Diperiksa dengan teliti dan dikembalikan segera sambil membahas bersama   a.   Pekerjaan dibuat  b.  Guru menjadi sumber informasi dan siswa menggunakan buku sebagai suplemen c.   Pelajaran disajikan di papan tulis atau alat lain yang lengkapd. Materi yang penting selalu disajikan  a.       Siswa tahu bagaimana cara menggunakan buku pelajaranb.      Penggunaan alat bantu yang berhubungan dengan tugas pelajaranc.       Siswa menggunakan perpustakaan secara efektif seperti katalog buku petunjuk referensid.      Memperkenalkan kelas dengan berbagai sarana belajar    a.       Berbagai bentuk pengalaman belajar b.      Menganggap siswa mampu lalu menolong mereka dalam membuat rencana c.       Mendidik siswa untuk mempersiapkan tugas dan membantu kelas secara keseluruhan d.      Menumbuhkan minat dan menimbulkan rasa penting bagi siswa  a.       Memberikan pengalaman memimpin pada siswa dibawah binaan gurub.      Untuk memperlengkapi dan menciptakan keseimbangan kegiatan dibawah binaan guruc.       Ikut memperhatikan problem siswa dan memecahkan masalah merekad.      Memberi kesempatan untuk berpartisipasi   a.       Memberi tugas yang seragamb.      Sangat formal atau terlalu sembronoc.       Sering diadakan dengan maksud mendisiplinkan siswad.      Dilakukan tanpa tanggungjawab.Tidak memperhatikan kesalahan dan memperbaiki.  a.       Pekerjaan yang tidak berhubungan satu dengan yang lain.b.      Tidak mampu menjawab pertanyaan yang sederhana.  c.       Perencanaan yang tidak jelas d.      Kurangnya bahan yang dipersiapkan  a.       Siswa ridak mengenal hal-hal yang penting dari bukub.      Kurang menggunakan alat bantu pelajaran c.       Hanya bersifat ceramah dan kurang menggunakan alat peraga d.      Digunakan untuk piknik pada hari libur     a.       Hanya satu/dua bentuk pengalaman belajarb.      Kurang menghargai partisipasi siswa atau reaksi siswa kurang diperhatikan c. Hanya mempersiapkan tugasnya sendiri   d.Hanya memperbaiki  dan mengkritik   a.       aktifkan siswa agar guru boleh istirahat  b.      Agar guru boleh beristirahat    c.       Hanya bersifat menusuk hati dan penuh kekuasaan d.      Hanya didominasi oleh beberapa orang

 

     

                   


[1] Makalah disampaikan pada 17 Pebruari 2008 dalam Pembekalan Amaliyah Tadris Santri Kelas VI Pondok Pesantren Madinatunnajah, Jombang Ciputat Tangerang Banten.

[2] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Balai Pustaka, Jakarta, 1993), hal. 335.
[3] Piet A.Sahertian dan  Ida Aleida Sahertian, Supervisi Pendidikan, Dalam Rangka Program Inservice Education, ( Rineka Cipta, Jakarta, 1990 ) hal. 16
[4] Departemen Agama, Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan, (Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Jakarta, 2006) hal. 27.
[5] Moh.Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, ( Remaja Rosdakarya, Bandung, 1990) hal. 4

[6] Istilah ini biasanya dipakai pada sesuatu yang asli dan menjadi ciri khas sebuah budaya. Pesantren misalnya, adalah lembaga pendidikan keagamaan  merupakan budaya asli bangsa Indonesia dan hanya terdapat di Indonesia serta menjadi ciri khas Indonesia.

[7] M.Bahri Ghazali, Pesantren Berwawasan Lingkungan, Prasasti cet III., Jakarta 2003 hal 14 – 15

[8] Muhammad Abdullah Ad-Duweisy, Al Mudarris wa Mahǎrǎt At Taujǐh, Penerjemah Izzudin Karimi, (Surabaya, Elba,2007) hal.24 – 59

[9] Sahertian, Supervisi Pendidikan, hal. 4

[10] Sahertian, Supervisi Pendidikan., hal.9
[11] Burhanuddin Tola,  dan Fahmi,Standar Penilaian Kelas, (Departemen Agama RI, Jakarta, 2005) hal. 1-3
[12] Tim Penyusun Departemen Agama RI, Standar Kompetensi Guru Agama Islam Pada Sekolah Umum dan Madarasah,( Departemen Agama RI, Jakarta., 2004) hal. 9-13

[13] Sahertian, Supervisi Pendidikan, hal. 10-13

Maret 12, 2008 Posted by | Pendidikan | Tinggalkan komentar

Indonesiaku, untuk kita renungkan ?

Sudah saatnya kita seluruh bangsa Indonesia, yang terdiri dari berbagai etnis, budaya, agama melakukan rekonstruksi  terhadap hubungan sosial yang telah sama kita bangun semenjak era reformasi. Apakah yang sebenarnya terjadi ? apakah semua bencana dan musibah yang datang silih berganti, karena faktor alam? ataukah kita sebagai manusia tidak mampu mengemban amanah ilahi sebagai khalifah di muka bumi ini ? Padahal DIA telah memberi kita seluruh wewenang-Nya untuk mengolah bumi ini. Namun sayangnya, kita lebih mengedepankan “keinginan” daripada “kewajiban”. Dan keinginan itulah yang dapat merusak kewajiban.

Sebagai bangsa yang besar, sudah saatnya, jangan ditunda-tunda, melakukan rekonstruksi ulang reformasi yang telah berjalan hampir sepuluh tahun. Dan itu harus dilakukan dalam semua bidang kehidupan, baik dari aspek sosial, ekonomi, pendidikan, agama dan lain sebagainya. (kelanjutannya besok ya…)

Maret 10, 2008 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar